Sekolah Daring karena Kabut Asap, Beban Keluarga di Tebo Ikut Bertambah

Razia kendaraan disaat Tebo diselimuti kabut asap Karhutla.
TEBO — Pemerintah Kabupaten Tebo mengalihkan kegiatan belajar mengajar PAUD/TK, SD dan SMP negeri ke sistem daring mulai 10 hingga 12 September 2026 akibat kualitas udara yang dinilai kurang baik dan berpotensi mengganggu kesehatan anak.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Tebo Nomor 2035 Tahun 2026, yang ditetapkan pada 9 September 2026.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai upaya melindungi anak dari paparan udara buruk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun di balik kebijakan tersebut, ada konsekuensi yang harus ditanggung keluarga.
Bagi orang tua yang bekerja, pembelajaran dari rumah bukan sekadar persoalan menyediakan telepon seluler dan koneksi internet.
Mereka harus membagi waktu antara pekerjaan, mengawasi anak belajar, hingga memastikan tugas sekolah tetap diselesaikan.
Persoalan semakin berat bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak sekolah, sementara perangkat dan akses internet terbatas.
Artinya, ketika sekolah dipindahkan ke rumah, sebagian beban pendidikan ikut berpindah ke pundak orang tua.
"Daring karena menjaga kesehatan anak dari kabut asap, faktanya, anak-anak tetap main diluar rumah dan sulit untuk dilarang, " kata salah satu orang tua siswa yang tidak mau diselesaikan namanya.
Dikatakanya, tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama. Ada orang tua yang bisa mendampingi anak sepanjang hari, tetapi ada pula yang harus bekerja di luar rumah dan tidak mungkin meninggalkan pekerjaan.
Belum lagi persoalan kuota internet dan kualitas jaringan yang dapat menjadi kendala tersendiri, terutama bagi keluarga di wilayah yang akses komunikasinya belum optimal.
Jangan Sampai Orang Tua Menanggung Dampak Sendirian
Pemerintah tentu memiliki alasan kesehatan dalam menerapkan kebijakan tersebut. Namun, penerapan belajar daring juga harus diikuti dengan perhatian terhadap kondisi keluarga.
Sekolah perlu memastikan materi pembelajaran tidak justru menambah beban orang tua. Pembelajaran daring seharusnya dibuat sederhana, fleksibel dan menyesuaikan kondisi peserta didik.
"Belajar daring, tapi anak-anak hanya diminta menulis buku. Jadi kurang efektif, " katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak tertinggal hanya karena keterbatasan perangkat maupun akses internet.
Yang lebih penting, kebijakan ini tidak boleh berhenti pada memindahkan anak dari ruang kelas ke rumah.
Sebab, jika kualitas udara terus memburuk dan kebijakan serupa harus berulang, dampaknya bukan hanya terhadap kesehatan dan pendidikan anak, tetapi juga terhadap ekonomi keluarga, produktivitas orang tua, serta beban pengasuhan di rumah.
Melindungi anak dari udara tercemar adalah kewajiban pemerintah. Tetapi memastikan keluarga tidak menjadi pihak yang menanggung seluruh konsekuensi dari buruknya kualitas udara juga harus menjadi perhatian serius.
"Anak jangan hanya disuruh belajar dari rumah. Pemerintah juga harus memastikan udara di luar rumah kembali aman untuk mereka," pungkasnya. ***