ISPA Melonjak di Tebo, 17.872 Kasus Tercatat hingga Awal September 2026

Ilustrasi kasus ispa di Tebo. (IA)
Kabartebo.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Di tengah kondisi udara yang memburuk dalam sepekan terakhir, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah ini tercatat mengalami peningkatan signifikan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tebo mencatat sebanyak 17.872 kasus ISPA terjadi sepanjang Januari hingga awal September 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 14.454 kasus.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tebo, Ari Setiawan, menyebut terjadi penambahan sebanyak 3.418 kasus dalam periode tersebut.
“Pada periode yang sama tahun 2025 tercatat 14.454 kasus, sedangkan tahun 2026 mencapai 17.872 kasus. Artinya, terjadi peningkatan sebanyak 3.418 kasus,” kata Ari saat dikonfirmasi, Minggu (6/9/2026).
Menurut Ari, peningkatan kasus tersebut perlu menjadi perhatian, terlebih kondisi udara di sejumlah wilayah Tebo dalam beberapa waktu terakhir mulai dipengaruhi asap karhutla.
Sejumlah wilayah kerja puskesmas bahkan tercatat memiliki sebaran kasus ISPA cukup tinggi, di antaranya Pulau Temiang, Kecamatan Tebo Ulu; Tuo Pasir Mayang, Kecamatan VII Koto Ilir; serta wilayah Rimbo Bujang.
Warga Diminta Waspada Saat Asap Memburuk
Dinas Kesehatan memastikan pelayanan terhadap masyarakat yang mengalami ISPA tetap berjalan. Ketersediaan obat dan penanganan bagi pasien saat ini disebut masih aman dan mencukupi.
Namun, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika konsentrasi asap semakin pekat.
Ari mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk. Kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan paru-paru diminta mendapat perhatian lebih.
“Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika asap meningkat. Jika asap di luar pekat, tutup ventilasi agar polusi tidak masuk ke dalam rumah,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun membersihkan lahan dan pekarangan dengan cara dibakar.
Selain berpotensi memicu kebakaran, asap dari pembakaran terbuka juga dapat memperburuk kualitas udara yang sudah terpapar asap karhutla.
Batuk dan Mata Perih Jangan Dianggap Sepele
Ari meminta masyarakat mengenali gejala awal ISPA. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk, pilek, iritasi tenggorokan, mata perih dan berair.
Jika kondisi berkembang menjadi lebih berat, terutama muncul sesak napas, masyarakat diminta segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat.
Lonjakan kasus ISPA ini menjadi alarm di tengah persoalan karhutla yang masih menghantui Tebo.
Asap yang semakin tercium masyarakat bukan hanya persoalan jarak pandang atau ketidaknyamanan. Jika berlangsung terus-menerus, kualitas udara yang buruk dapat menjadi persoalan kesehatan publik.
Dengan 17.872 kasus ISPA hingga awal September 2026, masyarakat kini dihadapkan pada dua persoalan sekaligus: ancaman karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan.
Pencegahan tidak hanya bergantung pada masyarakat untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah, tetapi juga membutuhkan pengendalian sumber asap agar polusi tidak terus berulang.***