Kabar Tebo

Kabar Tebo

  • Peristiwa
  • Sorot
  • Institusi
  • Kriminal
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Politik
  • Foto
  • Video
  • Beranda
  • Ragam

Hidup di Era AI, Bahren Nurdin: Manusia Harus Menguasai, Bukan Dikuasai Teknologi

Oleh Tebo Kito
September 15, 2026

Bahren Nurdin, Pengamat sosial. 

JAMBI
— Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang semakin cepat dinilai tidak mungkin lagi dihindari. Teknologi tersebut kini mulai masuk ke berbagai ruang kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, bisnis hingga pemerintahan.

Di tengah perkembangan itu, pengamat sosial Bahren Nurdin mengingatkan agar manusia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi tetap mampu mengendalikan arah dan pemanfaatannya.

Pandangan tersebut disampaikan Bahren melalui tulisannya berjudul “Hidup di Era AI: Menguasai atau Dikuasai?”. Ia menilai persoalan utama saat ini bukan lagi apakah manusia menerima atau menolak AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bijak.

Menurut Bahren, masyarakat boleh merasa khawatir terhadap AI, termasuk kekhawatiran bahwa sejumlah pekerjaan manusia akan tergantikan oleh mesin. Namun, menghindari perkembangan teknologi tersebut dinilai semakin sulit.

Ia mengibaratkan AI seperti telepon genggam. Jika dahulu orang mempertanyakan untuk apa memiliki telepon genggam, kini pertanyaannya justru berubah menjadi bagaimana menjalani kehidupan tanpa perangkat tersebut.

“Yang paling penting bukan menolak AI, tetapi menerimanya dengan pikiran terbuka dan literasi yang baik,” tulis Bahren.

AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Manusia

Bahren menekankan bahwa AI seharusnya ditempatkan sebagai tools atau alat bantu untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti manusia sepenuhnya.

Menurutnya, mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk membantu merapikan tulisan, dosen mengembangkan bahan ajar, ibu rumah tangga mencari ide usaha, sementara pejabat dapat menggunakannya untuk mengolah data dan menyusun berbagai alternatif kebijakan.

Namun, ada bagian yang menurut Bahren tidak boleh diserahkan kepada mesin, yakni kemampuan manusia untuk menghasilkan ide dan gagasan, berpikir kritis, memiliki kepekaan serta menggunakan hati nurani.

“Apa yang tidak boleh digantikan AI? Ide. Gagasan. Critical thinking. Kepekaan. Dan terutama hati,” tegasnya.

Bahren juga mengutip ungkapan yang pernah digunakan Jack Ma, “Machines have chips, humans have hearts.”

Menurutnya, kalimat tersebut penting untuk memahami posisi manusia di tengah perkembangan AI. Kecerdasan mesin tidak seharusnya membuat manusia kehilangan sisi kemanusiaannya.

Mesin Bisa Mengolah Data, Tapi Tidak Merasakan

Bahren mencontohkan persoalan kemiskinan dan pengangguran. AI dapat mengolah ribuan data kemiskinan maupun membaca statistik pengangguran dalam waktu singkat.

Namun, menurutnya, kemampuan mengolah data tidak sama dengan kemampuan merasakan persoalan manusia di balik angka tersebut.

Ia menggambarkan bagaimana seorang ibu bisa berada dalam situasi sulit ketika harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya sekolah anaknya.

Begitu pula dengan anak-anak muda yang kehilangan harapan karena berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan.

“Data dapat diolah oleh AI. Tetapi makna di balik data itu tetap membutuhkan manusia yang mampu melihat, merasakan, dan berpikir,” tulisnya.

Karena itu, Bahren menilai manusia tetap memiliki peran penting dalam memberikan konteks, mempertimbangkan dampak dan menentukan keputusan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kolaborasi Manusia dan Mesin

Bahren tidak melihat perkembangan AI sebagai pertarungan antara manusia dan mesin. Menurutnya, hubungan keduanya justru harus diarahkan pada bentuk kerja sama yang lebih cerdas.

AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, mencari informasi, mengolah data, menyusun alternatif, merangkai kalimat hingga menerjemahkan gagasan.

Sementara itu, manusia tetap menjadi pihak yang menentukan arah, nilai, keberpihakan dan keputusan akhir.

“Sederhananya begini: biarkan AI membantu otak kita bekerja lebih cepat, tetapi hati tetap kita kendalikan sendiri,” tulis Bahren.

Menurutnya, masa depan bukan milik manusia yang sepenuhnya menolak teknologi. Namun, bukan pula milik mereka yang menyerahkan seluruh kehidupannya kepada mesin.

Masa depan adalah milik manusia yang mampu menggunakan kecerdasan mesin tanpa kehilangan kecerdasan manusia.

Literasi AI Tak Sekadar Bisa Menggunakan ChatGPT

Bahren menilai literasi AI tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan ChatGPT maupun aplikasi AI lainnya.

Literasi AI yang sesungguhnya, kata dia, adalah kemampuan memahami kapan teknologi perlu digunakan, untuk apa digunakan dan kapan manusia harus mengambil alih tanggung jawab.

Manusia tetap harus mampu menentukan pertanyaan yang layak diajukan, menilai jawaban yang dihasilkan mesin serta mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

“Kapan harus mengatakan: ‘Tidak, bagian ini adalah tanggung jawab saya sebagai manusia,’” tulis Bahren.

Ia menilai jika kemampuan berpikir manusia dapat bekerja bersama kemampuan mesin, sementara hati tetap menjadi kompas, maka AI justru dapat menjadi kekuatan besar untuk membantu manusia menghadapi masa depan.

AI boleh semakin pintar. Tetapi manusia, menurut Bahren, tidak boleh kehilangan akal, rasa dan hati.

Pada akhirnya, pertanyaan di era AI bukan lagi sekadar manusia atau mesin. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah manusia mampu menguasai kecerdasan buatan, atau justru perlahan-lahan dikuasai oleh kecerdasan yang diciptakannya sendiri?. ***

Tags:
  • Ragam
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan lebih banyak
Posting Komentar
Batal
Popular
  • Nyaris Terjun dari Jembatan Batanghari Tebo, Perempuan 32 Tahun Diselamatkan Polisi

    September 22, 2026
    Nyaris Terjun dari Jembatan Batanghari Tebo, Perempuan 32 Tahun Diselamatkan Polisi
  • Diduga Rem Blong, Mobil Fuso Tabrak Warung Bakso di KM 3 Jalan Tebo-Bungo

    September 20, 2026
    Diduga Rem Blong, Mobil Fuso Tabrak Warung Bakso di KM 3 Jalan Tebo-Bungo
  • Mencuri Motor di Dharmasraya, Dua Terduga Pelaku Dibekuk di Tebo

    September 22, 2026
    Mencuri Motor di Dharmasraya, Dua Terduga Pelaku Dibekuk di Tebo
  • Baru Sehari Dicor Sudah Retak, PUPR Tebo Soroti Dugaan Masalah Mutu Jalan Tuo Ilir

    September 18, 2026
    Baru Sehari Dicor Sudah Retak, PUPR Tebo Soroti Dugaan Masalah Mutu Jalan Tuo Ilir
  • Ini Agenda Bupati dan Wabup Tebo Hari Ini, Senin, 21 September 2026

    September 20, 2026
    Ini Agenda Bupati dan Wabup Tebo Hari Ini, Senin, 21 September 2026
Kabartebo
Legal & Privacy
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
Informasi
  • Redaksi
  • Sitemap
Karir
  • Wartawan
Copyright © 2026 Kabartebo. All rights reserved.
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo
  • Network Logo