Dari Rimba ke Ruang Khitan: Kapolres Tebo Fasilitasi Dua Anak Temenggung Malenggang

Kapolres Tebo AKBP Triyanto saat mendampingi anak komunitas Suku Anak Dalam khitanan.
TEBO – Ada banyak cara untuk hadir di tengah masyarakat. Bagi dua anak Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Tebo, kehadiran itu datang dalam bentuk yang sederhana, tetapi begitu berarti: sebuah kesempatan untuk menjalani khitanan dengan layak.
Riki, 10 tahun, dan kakaknya Rizki, 12 tahun, merupakan dua putra Temenggung Malenggang, pemimpin komunitas Suku Anak Dalam di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.
Keduanya kini sedang menempuh pendidikan di Pesantren Darul Salam, Asam Merah, Desa Lubuk Mandarsah, Kecamatan Tengah Ilir.
Di tengah aktivitas mereka menuntut ilmu, terselip satu keinginan dari sang ayah. Malenggang ingin kedua anaknya menjalani khitanan.
Keinginan itu kemudian disampaikan kepada pendamping Suku Anak Dalam, Ahmad Firdaus.
Dari komunikasi sederhana tersebut, kemudian terjalin koordinasi dengan Kapolres Tebo AKBP Triyanto.
Responsnya pun tidak berlarut-larut.
Pada hari yang sama, Kapolres Tebo langsung memfasilitasi khitanan Riki dan Rizki.
Keduanya menjalani proses khitanan di Poli KIA Dokkes Polres Tebo. Kapolres Tebo bahkan hadir dan mendampingi langsung kedua anak tersebut.
Bagi Riki dan Rizki, mungkin momen itu akan menjadi salah satu kenangan yang mereka bawa hingga dewasa. Bagi keluarga Temenggung Malenggang, perhatian tersebut menjadi bentuk kepedulian yang tidak sekadar berhenti pada seremonial.
Ada pesan yang lebih dalam: bahwa anak-anak Suku Anak Dalam juga memiliki hak untuk mendapatkan perhatian, pelayanan kesehatan, serta kesempatan tumbuh dan belajar seperti anak-anak lainnya.
Usai kedua anaknya menjalani khitanan, Temenggung Malenggang menyampaikan rasa terima kasih kepada Polres Tebo.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Polres Tebo yang telah memfasilitasi kami dari Suku Anak Dalam untuk khitanan,” ujar Malenggang.
Riki dan Rizki sendiri saat ini tengah menjalani pendidikan di Pesantren Darul Salam.
Langkah kecil berupa khitanan itu menjadi bagian dari perjalanan mereka menatap masa depan. Dua anak dari komunitas Suku Anak Dalam yang sedang belajar mengenal dunia lebih luas melalui pendidikan.
Di balik perjalanan tersebut, ada orang tua yang ingin anak-anaknya memiliki masa depan lebih baik, ada pendamping yang membantu membuka akses, dan ada kepedulian dari aparat yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Sebab, bagi anak-anak seperti Riki dan Rizki, perhatian bukan sekadar tentang siapa yang datang membantu.
Lebih dari itu, perhatian adalah pesan bahwa mereka juga dilihat, didengar, dan memiliki tempat yang sama untuk tumbuh dan meraih masa depan.***