Ada Coran Tanpa Batu, Proyek Jalan Poros Tuo Ilir Kini Dipertanyakan Kualitasnya

Dok. Jambiotoritas.com
TEBO – Proyek pembangunan jalan poros Desa Tuo Ilir, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, menuai sorotan keras dari masyarakat dan pemerintah desa.
Jalan yang menjadi salah satu akses utama bagi kendaraan pengangkut kelapa sawit itu dipersoalkan karena disebut menggunakan mutu beton K175, yang dinilai pemerintah desa tidak sebanding dengan fungsi jalan poros yang menanggung beban kendaraan berat.
Protes bahkan sempat berujung pada penghentian pekerjaan selama dua hari. Pemerintah Desa Tuo Ilir mengaku telah berkoordinasi dengan pengawas lapangan dari CV Anugrah serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas PUPR Kabupaten Tebo.
Kepala Desa Tuo Ilir, Elli Suhairi, mengatakan pemerintah desa tidak bermaksud menghambat pembangunan. Namun, pihaknya menginginkan jalan yang dibangun dengan anggaran pemerintah tersebut memiliki kualitas yang layak dan dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Kami menginginkan pembangunan ini berjalan baik dengan kualitas jalan maksimal dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Elli Suhairi dilansir dari laman JambiOtoritas.com, Kamis (17/9/2026).
Menurut Elli, penggunaan mutu beton K175 dinilai tidak tepat untuk jalan poros yang setiap hari dilalui armada pengangkut hasil perkebunan.
“Tidak pas bila diteruskan dengan spek K175 kualitas rendah. Pekerjaan itu sempat disetop dua hari, orang itu sementara bekerja di Teluk Rendah,” tegasnya.
Desa Minta Spek Ditingkatkan
Elli mengungkapkan, dalam koordinasi dengan PPTK Dinas PUPR Tebo bernama Febri, disebutkan bahwa rencana awal pembangunan memiliki volume sekitar 1 kilometer.
Pemerintah desa kemudian meminta agar spesifikasi pekerjaan ditingkatkan. Namun, menurut Elli, pihak dinas menyampaikan bahwa perubahan spesifikasi teknis tidak dapat dilakukan karena keterbatasan anggaran.
Pihak desa juga meminta sejumlah bagian teknis pekerjaan diperbaiki, termasuk penggunaan besi tulangan berukuran 10 milimeter serta perbaikan struktur badan jalan sebelum dilakukan pengecoran.
“Jadi kami minta kepada Dinas PUPR besi diganti dengan ukuran 10 mm, kemudian jalan itu discrap dulu karena struktur badan jalan tidak rata,” katanya.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan pengecoran pada malam hari.
Elli membenarkan bahwa pada saat pekerjaan malam berlangsung, terjadi kekurangan material batu pecah. Akibatnya, menurut keterangan yang diterima pemerintah desa, sempat terdapat adukan cor yang hanya menggunakan pasir dan semen untuk sekitar satu hingga dua molen.
Pekerjaan tersebut kemudian dihentikan.
Kontraktor Akui Ada Kekeliruan
Terpisah, Pelaksana Lapangan CV Anugrah, Yusri, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengakui pekerjaan malam itu mengalami kekeliruan, namun menyebut pihaknya langsung menghentikan pengecoran setelah mengetahui material batu pecah tidak tersedia.
“Memang kejadian malam itu kami akui salah, tapi saya cepat tanggap. Coran tanpa batu itu. Itu karena material habis, tapi saya bertindak cepat menghentikan pekerjaan malam itu,” ungkap Yusri, Kamis siang.
Yusri mengatakan setelah kejadian tersebut pihaknya melakukan perbaikan. Ia juga menyebut komposisi beton K175 menggunakan takaran 1:3 sesuai takaran lapangan.
Untuk tulangan, Yusri mengklaim penggunaan besi berdiameter 6 milimeter telah sesuai dengan gambar rencana.
Proyek tersebut disebut memiliki volume 450 meter x 4 meter dengan ketebalan 20 sentimeter dan kini telah dilanjutkan hingga memasuki tahap akhir.
Saat ditanya mengenai keterlibatannya dalam pekerjaan proyek jalan lingkungan di Desa Teluk Rendah Ilir, Yusri membenarkannya.“Iya benar,” katanya singkat.***
Artikel ini telah ditayangkan di Jambiotoritas.com.
Link: https://www.jambiotoritas.com/2026/09/17/kontraktor-ngaku-salah-mutu-jalan-poros-tuo-ilir-dipertanyakan/